IMG-LOGO

Tarif Jasa Ekspedisi Naik, Dampak Kenaikan Harga BBM


Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), khususnya solar berimbas pada kenaikan tarif jasa transportasi angkutan barang atau ekspedisi di Kalimantan Barat. Mereka berencana untuk menaikan tarif hingga 30 persen dari tarif sebelumnya.


Menurut pria yang akrab disapa Aseng ini, kenaikan harga minyak atau bahan bakar mempengaruhi operasional jasa angkutan darat khususnya di Kalimantan Barat. “Minyak mempengaruhi 60 persen biaya operasional. Kalau harga minyak naik, pasti harga barang-barang lain juga akan naik.




Ban, spare part dan penunjang operasional lainnya seperti biaya bongkar muat dan lain-lain,” kata Aseng kepada Pontianak Post, Minggu (4/9).Untuk itu, pihaknya akan menaikan tarif jasa ekspedisi, menyesuaikan kenaikan haraga BBM. “Karena kalau tidak disesuaikan pasti terjadi kerugian besar buat pelaku jasa ekspedisi,” katanya


Apalagi, lanjut Aseng, perusahaan ekspedisi miliknya melayani pengiriman barang dengan banyak rute di Kalimantan mau pun luar Kalimantan seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya.Sedangkan untuk wilayah Kalimantan, pihaknya melayani rute Pontianak-Singkawang, Bengkayang, Sejiram, Semitau, Selimbau, Putussibau hingga Badau. Selain itu, juga lintas Kalimantan, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Menurut Aseng, selain kenaikan harga BBM, persoalan lainnya yang kerap dihadapi sopir dan pengusaha eskpedisi, adalah sulitnya mendapatkan solar. Pengamat ekonomi Wibisono Hardjopranoto mengatakan keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sangat tepat. “Seharusnya sudah sejak dulu harus naik (BBM), dan subsidi diberikan kepada orang yang tepat,” katanya saat dikonfirmasi di Mojokerto, Jatim, Sabtu malam. Ia mengakui, dampak kenaikan BBM adalah terjadinya inflasi. Namun, dari kacamata ekonomi akan terkena inflasi adalah mereka yang masuk dalam fixed income group. “Artinya yang terkena inflasi warga negara yang pengangguran, atau terkena Covid-19,” ujarnya.

Pilihan untuk menaikkan harga BBM juga dilakukan atas dasar masih banyak penggunaan BBM bersubsidi yang tidak tepat sasaran. Pemerintah menyebut sekitar 80 persen BBM bersubsidi digunakan oleh industri dan rumah tangga mampu. “Banyak yang menggunakan (BBM bersubsidi) karena tidak ada pembatasan siapa yang boleh dan siapa yang beli dan siapa yang tidak. Pak Jokowi melihat ini layak untuk disesuaikan. Makanya, lebih bagus BLT diberikan lebih tepat atau langsung kepada orang,” katanya.


Hubungi Kami
Untuk info lebih lanjut

Ikuti PCP Express

  • PCP Express

  • Jl. Pulo Gadung no. 26
  • Kawasan Industri JIEP
  • Jakarta Timur 13930
  • +62 21 5088 8585